Rabu, 19 Juni 2013

Tulisan Individu 13 "Akuntansi Internasional"

Kasus Manajemen Resiko (PT Telkom)

Contoh Kasus Manajemen Risiko ( PT Telkom)
Setiap perusahaan pasti memiliki risiko dalam menjalankan kinerja perusahaanya, salah satu risiko yang akan dihadapi perusahaan adalah risiko kredit. Risiko kredit adalah risiko yang dihadapi sebuah perusahaan karena pendanaan eksternal yang diusahakan oleh perusahaan.
Risiko Kerusakan Properti
Tidak dapat dipungkiri bahwasannya setiap usaha mengandung risiko yang kadang tidak sedikit. Dalam hal ini, PT Telkom, Tbk juga memiliki risiko kerusakan properti atas properti/aset mereka. Karena PT Telkom, Tbk bergerak dalam bidang layanan jaringan informasi dan telekomunikasi, maka risiko kerusakan properti lebih dititikberatkan pada risiko kerusakan infrastruktur jaringannya karena apabila ada satu kerusakan saja yang terjadi, maka akan mengakibatkan menurunnya kualitas dan kepuasan pelanggan terhadap PT Telkom, Tbk dan hal tersebut juga akan berdampak pada profitabilitas perusahaan. Risiko ini akan muncul akibat sistem dan teknologi informasi (hardware, software, network, orang dan proses) yang tidak efektif untuk mendukung kebutuhan  informasi saat  ini dan yang akan datang secara efisien. Macam-macam risiko kerusakan properti yang mungkin dihadapi oleh manajemen disajikan dalam tabel berikut.

Risiko
Dampak
Kurang baiknya manajemen operasional, jaringan, dan sistem database
Besar
Kurang baiknya kualitas jaringan atau teknologi yang sudah usang
Sangat Besar
Kurangnya perawatan atau lalai dalam mengelola infrastuktur jaringannya
Besar
Kerusakan pada infrastruktur jaringan yang disebabkan bencana alam atau kejadian tidak terduga lainnya
Sangat Besar
Hilangnya beberapa infrastruktur jaringan karena pencurian
Sangat Besar
Jangka waktu operasi satelit yang terbatas
Besar
Ledakan permintaan yang berlebihan sehingga mengakibatkan sistem cepat error dan rusak
Besar

Penjelasan :
Risiko pertama, terdapat beberapa risiko kerusakan properti yang mungkin akan dihadapi oleh PT Telkom, Tbk seperti tampak pada tabel diatas. Dimulai dari kurang baiknya manajemen operasional, jaringan, dan sistem database yang memiliki dampak besar bagi kinerja layanan perusahaan karena apabila tata pengelolaan manajemen operasional, jaringan, dan sistem database kurang baik, maka akan mengakibatkan pelayanan yang diberikan menjadi kurang maksimal. Jika infrastruktur jaringan tidak dikelola dengan baik, lama-kelamaan hal tersebut akan mengakibatkan beberapa infrastruktur ada yang error atau mungkin rusak sehingga akan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk memperbaikinya. Namun, risiko ini masih bisa dihindari asalkan ada manajemen operasional, jaringan, dan database yang baik.
Risiko kedua, kurang baiknya kualitas jaringan atau ada teknologi yang usang memiliki dampak yang sangat besar bagi kinerja layanan perusahaan. Kurang baiknya kualitas jaringan bisa disebabkan karena manajemen pengelolaan jaringan dan sistem database yang buruk atau teknologinya yang sudah ketinggalan jaman sehingga berdampak pada layanan perusahaan secara keseluruhan karena PT Telkom bergerak dalam bidang jasa informasi dan telekomunikasi sehingga selalu dituntut untuk menjaga kualitas jaringannya. Risiko ini dapat dihindari dengan cara selalu melakukan perawatan/penggantian berkala pada infrastruktur jaringannya untuk menjaga kualitasnya.
Risiko ketiga, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kurangnya perawatan pada infrastruktur jaringannya atau lalai dalam mengelola infrastruktur jaringan dapat menyebabkan infrastruktur tersebut cepat rusak sehingga layanan komunikasi dan informasi menjadi tidak optimal. Risiko ini dapat dihindari dengan melakukan perawatan berkala dan selalu bersikap hati-hati dan waspada supaya tidak lalai untuk mencegah kerusakan pada infrastruktur jaringannya.
Risiko keempat, risiko kerusakan yang disebabkan karena bencana alam atau kejadian tidak terduga lainnya seperti sabotase, terorisme, atau aksi demo massa yang mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur jaringan tidak mudah untuk diprediksi. Namun, hal ini dapat diantisipasi dengan menyiapkan infrastruktur cadangan atau dana cadangan untuk kerusakan tersebut. Risiko ini memiliki dampak yang sangat besar karena PT Telkom tidak dapat memprediksi bencana alam atau kejadian tak terduga seperti apa yang akan menyebabkan gangguan/kerusakan pada infrastrukturnya. Terlebih lagi jika manajemen tidak menyiapkan langkah antisipasi, maka akan menimbulkan masalah yang cukup serius bagi kinerja perusahaan tersebut.
Risiko kelima, risiko ini juga tidak dapat diprediksi karena pencurian dapat dilakukan kapan saja sehingga manajemen PT Telkom perlu menyiapkan langkah antisipasi guna menghindari kerugian yang lebih besar dari risiko tersebut.
Risiko keenam, satelit merupakan salah satu properti penting yang harus dijaga kinerja dan kemampuannya karena satelit berfungsi sebagai jembatan penghubung komunikasi antar wilayah di muka bumi ini. Apabila tidak ada satelit, maka mustahil komunikasi jarak jauh dapat dilakukan. Namun, aset penting ini juga memiliki batas usia maksimum penggunaannya sehingga manajemen perlu menyiapkan satelit pengganti guna menjaga kualitas layanannya. Risiko ini termasuk risiko yang dapat diprediksi sebelumnya.
Risiko ketujuh, risiko ini sebenarnya dapat dicegah sebelumnya apabila manajemen telah menyiapkan langkah preventif guna mengantisipasi ledakan permintaan yang tinggi akibat gencarnya promosi.
Risiko Regulasi dan Hukum
Risiko ini dapat terjadi karena adanya perubahan regulasi atau hukum dari regulator atau pemerintah yang dapat mengancam posisi kompetitif dan kemampuan perusahaan untuk menjalankan bisnis secara efisien, demikian juga dengan kebijakan internal perusahaan yang  selalu berubah-ubah. Termasuk di dalamnya ketidakpatuhan dalam standar  industri. Macam-macam risiko regulasi dan hukum yang mungkin dihadapi oleh manajemen disajikan dalam tabel berikut.

Risiko
Dampak
Batasan-batasan dalam industri yang menyebabkan kehilangan peluang dan pendapatan
Besar
Perubahan regulasi pemerintah
Besar
Kehilangan lisensi
Sangat Besar
Sengketa dalam perjanjian kontrak
Besar
Tindakan manajemen yang melanggar aturan
Besar
Penjelasan:
Risiko pertama, batasan-batasan dalam industri yang menyebabkan kehilangan peluang dan pendapatan dapat berdampak pada keuntungan yang dihasilkan dan strategi yang diterapkan akan berubah. Risiko ini tidak dapat dihindari karena merupakan kebijakan pemerintah dalam menentukan batasan-batasan industri sehingga manajemen harus menyiapkan langkah antisipasinya.
Risiko kedua, perubahan regulasi pemerintah juga merupakan risiko yang tidak bisa diprediksi. Risiko ini memiliki dampak yang cukup besar pada kemampuan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan sehingga ketika risiko ini terjadi, manajemen diharapkan untuk menyesuaikan dengan regulasi yang baru secepatnya dan sebaiknya menyiapkan strategi cadangan untuk berjaga-jaga apabila regulasi pemerintah berubah lagi.
Risiko ketiga, risiko kehilangan lisensi memiliki dampak yang sangat besar pada kinerja perusahaan secara keseluruhan. Namun, risiko ini kecil kemungkinannya terjadi karena biasanya perusahaan akan segera mendaftarkan lisensinya begitu usaha telah berjalan.
Risiko keempat, risiko ini memiliki dampak yang besar bagi perusahaan. Masalah sengketa dalam perjanjian kontrak dengan pihak lain dalam bentuk kerjasama maupun ijin penggunaan aset/lahan untuk mendirikan tower apabila tidak segera diselesaikan, maka akan menimbulkan masalah berkepanjangan yang bisa menyebabkan kinerja perusahaan menurun. Risiko ini dapat dicegah apabila kedua belah pihak dalam perjanjian saling mematuhi aturan yang ada.
Risiko kelima, tindakan manajemen yang melanggar aturan akan menyebabkan terganggunya kinerja perusahaan baik sebagian maupun secara keseluruhan. Risiko ini dapat dicegah dengan selalu mematuhi peraturan yang ada dan tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan perusahaan.
Risiko Perubahan Tingkat Suku Bunga
Risiko
Dampak
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dapat memengaruhi tingkat suku bunga
Besar
Kebijakan internal perbankan tentang tingkat suku bunga
Besar
Jangka waktu yang lama membuat perubahan tingkat suku bunga semakin sering
Besar
Timbul gap yang cukup besar antara pendapatan bunga dan biaya bunga akibat perubahan tingkat suku bunga
Besar

Risiko tingkat suku bunga ini merupakan risiko terkait dengan kesehatan finansial perusahaan. Adanya risiko Tingkat Suku Bunga merupakan salah satu indikasi bahwa PT. Telkom menggunakan pendanaan atas investasi dan operasionalnya dengan modal yang berasal dari luar (external capital). Dengan demikian akan merubah struktur modal dari perusahaan. Indikasi yang dari modal yang didapatkan dari luar berupa hutang merupakan salah satu sebab berubahnya struktur modal perusahaan. Dengan struktur modal yang berubah seiring dengan bertambahnya utang perusahaan maka akan menambah biaya kebangkrutan perusahaan walaupun taxshield nya bertambah. Biaya kebangkrutan merupakan salah satu sebab perusahaan sedang mengalami financia distress.
Risiko Tingkat suku bunga ini dapat dilihat dengan mengetahui utang perusahaan dan membandingkanya dengan modal sendiri perusahaan yang terhubung dalam struktur modal. Dengan melihat perbandingan antara keduanya, maka kita bisa melihat bagaimana perusahaan tersebut mempunyai risiko perubahan tingkat suku bunga yang besar atau rendah.



Komentar : Kasus PT Telkom diatas bisa dijadikan sebagai contoh konkret dalam mengatasi berbagai risiko, yaitu risiko kerusakan properti, risiko regulasi dan hukum dan risiko perubahan tingkat suku bunga. Dari risiko-risiko dan penjelasan yang sudah tertera diatas, diharapkan PT Telkom dapat mengantisipasi timbulnya risiko, dan apabila sudah timbul risiko diharapkan mampu dalam mengatas risiko tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar