Kamis, 17 Januari 2013

Budaya Perusahaan


BudayaPerusahaan disini  merupakan terjemahan dari kata Corporate Culture, dari Definisi Budaya Perusahaan yang dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa budaya perusahaan adalah suatu pola asumsi dasar yang dimiliki oleh anggota perusahaan yang berisi nilai-nilai, norma-norma dan kebiasaan yang mempengaruhi pemikiran, pembicaraan, tingkah laku, dan cara kerja karyawan sehari-hari, sehingga akan bermuara pada kualitas kinerja perusahaan. Dengan demikian, budaya perusahaan merupakan solusi yang secara konsisten dapat berjalan dengan baik, bagi sebuah kelompok dalam menghadapi persoalan-persoalan di dalam dan di luar kelompoknya.
  
 Budaya perusahaan  menurut Susanto, AB. (1997:3) : “Suatu nilai-nilai yang menjadi pedoman sumber daya manusia untuk menghadapi permasalahan eksternal dan penyesuaian integrasi ke dalam perusahaan, sehingga masing-masing anggota  organisasi harus memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana meraka harus bertindak atau berperilaku.”

 Budaya perusahaan  menurut Schein, H. (1992:12): Budaya perusahaan sebagai suatu perangkat asumsi dasar akan membantu anggota kelompok dalam memecahkan masalah pokok dalam menghadapi kelangsungan hidup, baik dalam lingkungan eksternal maupun internal, sehingga akan membantu anggota kelompok dalam mencegah ketidakpastian situasi. Pemecahan masalah yang telah ditemukan ini kemudian dialihkan pada generasi berikutnya sehingga akan memiliki kesinambungan.

 Menurut Koentjoroningrat (1994 : 5), budaya itu sendiri memiliki tiga tingkatan yang saling berinteraksi satu sama lain. Tingkatan yang pertama berupa benda-benda hasil kecerdasan dan kreasi manusia (artefacts dan creation). Tingkatan kedua adalah nilai-nilai dan ideologi yang merupakan aturan, prinsip, norma, nilai, dan moral yang menuntun organisasi dan merupakan harta kekayaan yang ingin mereka penuhi. Tingkatan ketiga adalah asumsi dasar yang tidak disadari  mengenai keadaan kebenaran dan kenyataan, kemanusiaan, hubungan manusia dengan alam, hubungan antar manusia, keadaan waktu dan alam semesta.

 Pengertian Budaya Perusahaan Menurut Para Ahli Menurut Hofstade, Geerst (1990:32) : Budaya perusahaan  didefinisikan sebagai perencanaan bersama dari pola pikir (collective programming mind) yang membedakan anggota-anggota dari suatu kelompok masyarakat dengan kelompok dari suatu budaya yang lain. Pola pikir ini pada dasarnya hanya ada dalam pikiran individu yang kemudian mengalami kristalisasi dan memiliki bentuk. Pada gilirannya pola pikir bersama ini akan meningkatkan sikap mental para anggota kelompok tersebut.

 Menurut Schiffman dan Kanuk (1997) budaya adalah “sum total of learned beliefs, values, and customes that serve to direct consumer behavior of members of a particular society”  atau budaya merupakan sekumpulan keyakinan yang dipelajari, nilai dan kebiasaan yang mengarahkan perilaku konsumen dari suatu anggota masyarakat tertentu.

Budaya adalah kompleks nilai, gagasan, sikap, dan simbol lain yang bermakna yang melayani manusia untuk berkomunikasi, membuat tafsiran dan mengevaluasi sebagai anggota masyarakat. Budaya dan nilai-nilai diteruskan dari satu generasi kegenerasi yang lain   

Budaya melengkapi orang dengan rasa identitas dan pengertian perilaku yang dapat diterima didalam masyarakat. Beberapa dari sikap perilaku yang lebih penting yang dipengaruhi oleh budaya adalah sebagai berikut:
  1. Rasa diri dan ruang
  2. Komunikasi dan bahasa
  3. Pakaian dan penampilan
  4. Makanan dan kebiasaan makan
  5. Waktu dan kesadaran akan waktu
  6. Hubungan (keluarga, orgaisasi, pemerintah, dan sebagainya)
  7. Nilai dan norma
  8. Kepercayaan dan sikap
  9. Proses mental dan pembelajaran
  10. Kebiasaan kerja dan praktek

Budaya mempengaruhi penggerak yang memotivasi orang untuk mengambil tindakan yang lebih jauh – bahkan untuk motif yang bermacam-macam seperti kebebasan, kemampuan baca tulis, atau kegairahan. Budaya dari suatu masyarakat menentukan bentuk komunikasi apa yang diizinkan sehubungan dengan  masalah ini dan kerap sifat dan tingkat perilaku mencari yang dianggap sesuai oleh individu.
Menurut Denison, Daniel R (1990:2) Budaya perusahaan  adalah suatu istilah yang muncul untuk mengartikan variabel-variabel perilaku yang menarik banyak penelitian. Budaya itu sendiri mengacu pada nilai keyakinan dan prinsip-prinsip yang ada sebagai dasar untuk mengelola perusahaan.

Prinsip dasar tersebut akan diperjelas dan didukung oleh praktek manajemen dan perilaku yang ada. Budaya perusahaan  menurut Denison mempunyai pengaruh terhadap keefektifan suatu organisasi. Budaya perusahaan  dapat dilihat dari aspek rasa Keterlibatan (involvement), Konsistensi (consistency), Adaptabilitas (adaptability), dan Misi (mission).

1.    Keterlibatan (involvement)
Tingkat keterlibatan dan partisipasi yang tinggi dari karyawan akan meningkatkan rasa tanggung jawab. Rasa kepemilikan dan tanggung jawab tersebut akan meningkatkan komitmen karyawan terhadap perusahaan sehingga tidak memerlukan kontrol yang terbuka. Dengan rasa keterlibatan yang tinggi juga diharapkan dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan, dimana hal-hal tersebut penting dalam membantu menyelesaikan pekerjaan.

2.    Konsistensi (consistency)
Konsistensi menekankan pada nilai-nilai yang dimiliki perusahaan yang perlu dipahami oleh para anggota organisasi. Nilai-nilai tersebut meliputi masalah komunikasi, kerjasama dalam melaksanakan pekerjaan, toleransi, penghargaan terhadap prestasi. Hal-hal tersebut mempunyai dampak yang positif terhadap proses pencapaian tujuan organisasi dan perlu dibangun atau dikembangkan dalam perusahaan secara konsisten.
Komunikasi merupakan sesuatu yang penting, karena komunikasi mempunyai unsur-unsur antara lain:
  • Suatu kegiatan untuk  membuat seseorang mengerti
  • Suatu sarana pengaliran informasi
  • Suatu sistem bagi terjalinnya komunikasi diantara individu-individu

Kerjasama dalam melaksanakan pekerjaan harus dibiasakan, karena dengan adanya kerjasama maka akan membantu mempermudah pencapaian tujuan. Penghargaan terhadap prestasi yang dicapai, harus dibentuk dalam format yang baik, dan tepat, agar dapat dijadikan motivasi dalam bekerja.

3.    Adaptabilitas (adaptability)
Menekankan pentingnya adaptabilitas di dalam perusahaan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi. Perubahan-perubahan dalam lingkungan dapat berwujud perkembangan teknologi, perubahan kondisi ekonomi dan politik, perubahan kualitas dan sikap karyawan, tuntutan konsumen terhadap produksi perusahaan. Adaptabilitas  tidak hanya diperlukan bagi kelangsungan hidup perusahaan tetapi juga sebagai tantangan pengembangan perusahaan.

4.    Misi (mission)
Hal ini menekankan pada pentingnya kejelasan misi dan tujuan dari suatu organisasi bagi para anggotanya. Beberapa ahli berpendapat bahwa pengertian akan misi memberikan dua pengaruh utama pada fungsi organisasi, yaitu :
  • Suatu misi memberikan kegunaan dan arti yang menentukan peran sosial dan tujuan ekstra dari suatu lembaga dan menentukan peran-peran individu dari lembaga tersebut. Proses internalisasi dan identifikasi ini memberikan komitmen jangka pendek dan jangka panjang serta mengarah pada efektivitas organisasi.
  • Pengertian akan misi akan memberikan kejelasan arah pada tingkat individu, ada rasa percaya bahwa kesuksesan organisasi membutuhkan adanya koordinasi yang merupakan hasil dari menentukan tujuan bersama.

Marvin Bowers (1982 : 4) mendefinisikan budaya perusahaan dengan pernyataan “The way we doing things around here”. Budaya perusahaan adalah sesuatu yang khas dari suatu perusahaan. Membangun budaya perusahaan merupakan salah satu cara untuk membantu menemukan arti dan akhirnya menikmati apa yang dikerjakan seseorang. Budaya perusahaan yang kuat dapat menumbuhkan kesetiaan dan membangkitkan kesenangan dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Budaya perusahaan yang kuat dapat menjadi pegangan yang mantap bagi setiap karyawan yang bekerja didalam perusahaan . Budaya perusahaan menggambarkan aturan main yang berlaku dalam perusahaan. Berisi kesimpulan partisipan (anggota perusahaan) tentang apa yang dialami mereka, bukan berisi aturan-aturan formal tertulis. Budaya perusahaan merupakan konsep dari pola-pola pikir yang direfleksikan dan diperkuat oleh perilaku setiap anggota perusahaan,merupakan pola-pola asumsi dasar yang meliputi cara berpikir dan bertingkah laku mengenai tujuan perusahaan. Pola-pola asumsi dasar ini dikembangkan oleh suatu perusahaan karena dianggap penting diajarkan kepada seluruh karyawannya sebagai cara yang tepat untuk berpikir, melihat, merasakan, dan memecahkan suatu masalah. Adanya budaya perusahaan membuat karyawan mengetahui apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan mengapa harus melakukan hal tersebut sehinnga karyawan lebih yakin dalam bertindak.

Setiap tingkatan budaya memiliki tendensi alamiah untuk mempengaruhi tingkatan budayayang lain. Hal ini barangkali paling jelas terlihat dari segi nilai anutan bersama yang mempengaruhi perilaku suatu kelompok-komitmen terhadap pelanggan, misalnya, mempengaruhi kecenderungan kecepatan seseorang menanggapi keluhan pelanggan. Tetapi kausalitas dapat juga mengalir dengan arah lain juga-perilaku dan praktik dapat mempengaruhi nilai. Karyawan yang tak pernah memiliki kontak apapun dengan pasar, apabila mulai berinteraksi dengan para pelanggan dan masalah serta kebutuhan mereka, maka para karyawan itu sering mulai menilai kepentingan pelanggan lebih tinggi. Hal ini dapat dilihat pada ilustrasi gambar di bawah

sumber : http://www.sarjanaku.com

Asimetri Informasi

Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Oleh karena itu sebagai pengelola, manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan.

Laporan keuangan dimaksudkan untuk digunakan oleh berbagai pihak, termasuk manajemen perusahaan itu sendiri. Namun yang paling berkepentingan dengan laporan keuangan sebenarnya adalah para pengguna eksternal (diluar manajemen). Laporan keuangan tersebut penting bagi para pengguna eksternal terutama sekali karena kelompok ini berada dalam kondisi yang paling besar ketidakpastiannya (Ali, 2002). Para pengguna internal (para manajemen) memiliki kontak langsung dengan entitas atau perusahannya dan mengetahui peristiwa-peristiwa signifikan yang terjadi, sehingga tingkat ketergantungannya terhadap informasi akuntansi tidak sebesar para pengguna eksternal.
Situasi ini akan memicu munculnya suatu kondisi yang disebut sebagai asimetri informasi (information asymmetry). Yaitu suatu kondisi di mana ada ketidakseimbangan perolehan informasi antara pihak manajemen sebagai penyedia informasi (prepaper) dengan pihak pemegang saham dan stakeholder pada umumnya sebagai pengguna informasi (user). 

Menurut Scott (2000), terdapat dua macam asimetri informasi yaitu:
1. Adverse selection, yaitu bahwa para manajer serta orang-orang dalam lainnya biasanya mengetahui lebih banyak tentang keadaan dan prospek perusahaan dibandingkan investor pihak luar. Dan fakta yang mungkin dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh pemegang saham tersebut tidak disampaikan informasinya kepada pemegang saham.
2. Moral hazard, yaitu bahwa kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer tidak seluruhnya diketahui oleh pemegang saham maupun pemberi pinjaman. Sehingga manajer dapat melakukan tindakan diluar pengetahuan pemegang saham yang melanggar kontrak dan sebenarnya secara etika atau norma mungkin tidak layak dilakukan.

Adanya asimetri informasi memungkinkan adanya konflik yang terjadi antara principal dan agent untuk saling mencoba memanfatkan pihak lain untuk kepentingan sendiri. Eisenhardt (1989) mengemukakan tiga asumsi sifat dasar manusia yaitu: (1) manusia pada umunya mementingkan diri sendiri (self interest), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan (3) manusia selalu menghindari resiko (risk adverse). Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut menyebabkan bahwa informasi yang dihasilkan manusia untuk manusia lain selalu dipertanyakan reliabilitasnya dan dapat dipercaya tidaknya informasi yang disampaikan.

sumber : http://nyariduitreceh.blogspot.com

Teori Keagenan (Agency Theory)


Teori Keagenan (Agency Theory)Jensen dan Meckling (1976) dalam Masdupi (2005, 59) mendefinisikan teori keagenan sebagai hubungan antaraagen (manajemen suatu usaha) dan principal (pemilik usaha). Di dalam hubungan keagenan terdapat suatu kontrak dimana satu orang atau lebih  (principal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama prinsipal dan memberi wewenang kepada agen untuk membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal. 

Informasi laporan keuangan yang disampaikan secara tepat waktu akan mengurangi asimetri informasi yang erat kaitannya dengan teori agency (Kim dan Verrechia, 1994) dalam  (Saleh, 2004:897). Sehingga dalam hubungan keagenan, manajemen diharapkan dalam mengambil kebijakan perusahaan terutama kebijakan keuangan yang menguntungkan pemilik perusahaan. Bila keputusan manajemen merugikan bagi pemilik perusahaan maka akan timbul masalah keagenan (Ismiyanti dan Hanafi, 2004:176). 

Laporan akuntansi berupa laporan keuangan memang dimaksudkan  untuk digunakan oleh berbagai pihak, termasuk manajemen perusahaan sendiri. Namun yang paling berkepentingan dengan laporan keuangan sebenarnya adalah para pengguna eksternal (diluar manajemen). Informasi akuntansi ini penting bagi pengguna eksternal terutama sekali karena kelompok ini berada dalam kondisi yang paling besar ketidakpastiannya.

Para pengguna internal (para manajamen memiliki kontak langsung dengan entitas atau perusahaannya dan mengetahui peristiwa-peristiwa signifikan yang terjadi., sehingga tingkat ketergantungannya terhadap informasi akuntansi tidak sebesar pengguna eksternal (Irfan, 2002:88). Sehingga untuk mengurangi asimetri informasi dan mencegah  terjadinya konflik keagenan, sudah menjadi kewajiban bagi pihak manajemen untuk melaporkan laporan keuangan secara tepat waktu.

sumber : http://www.sarjanaku.com

Tulisan tentang Artikel IFRS


Artikel IFRSIFRS: Principles-Based Accounting Standards18 Januari 2013Dukungan terhadap International Financial Reporting Standards (IFRS) sebagai standar tunggal pelaporan keuangan yang berkualitas semakin meluas. Semakin banyak negara yang mengadopsi IFRS, sehingga pada akhirnya IFRS dapat digunakan di seluruh dunia.Dukungan terhadap IFRS disebabkan karena IFRS merupakan standar yang berbasis lebih pada prinsip (principles-based standards) dibandingkan dengan standar akuntansi yang diakui di Amerika (Generally Accepted Accounting Principles) yang lebih berbasis pada aturan (rules-based standards).Pada dasarnya, tidak ada standar yang murni berbasis aturan atau yang murni berbasis prinsip. Setiap standar akuntansi akan berada pada spektrum antara aturan dan prinsip.Standar akuntansi yang berbasis prinsip memuat prinsip-prinsip umum, yang mengandalkan pada interpretasi dan pertimbangan penyusun laporan keuangan. Standar berbasis prinsip memuat pedoman yang lebih umum yang dimulai dengan tujuan umum dan prinsip-prinsip tanpa memberikan pedoman rinci. Hal ini menjadikan IFRS lebih sederhana dan lebih fleskibel dalam persyaratan akuntansi dan pengungkapannya.Sedangkan standar akuntansi yang berbasis aturan memuat seperangkat aturan, yang membatasi fleksibilitas dan penggunaan pertimbangan profesional. Standar akuntansi yang berbasis aturan berisi pedoman rinci yang harus diikuti ketika perusahaan menyiapkan laporan keuangan. Pedoman tersebut didasarkan pada asumsi bahwa manajemen memerlukan pedoman yang menjamin bahwa transaksi dilaporkan dengan tepat dan konsisten. Pedoman rinci tersebut menjadikan standar tersebut lebih panjang dan lebih kompleks.Standar akuntansi berbasis aturan biasanya hanya berlaku untuk suatu industri tertentu, sedangkan standar akuntansi yang berbasis prinsip tidak mengatur untuk suatu jenis industri tertentu.Standar akuntansi yang berbasis prinsip memberi dasar konseptual bagi akuntan ketimbang daftar aturan rinci. Pada presentasinya di Financial Executives International (2002), Robert Herz, Chairman of Financial Accounting Standard Board (FASB) menjelaskan pendekatan yang berbasis prinsip. Pendekatan berbasis prinsip dimulai dengan menetapkan tujuan utama pelaporan dan kemudian memberikan pedoman yang menjelaskan tujuan tersebut dan mengaitkannya dengan beberapa contoh.Setiap standar akuntansi memiliki kelebihan dan kelemahan, demikian pula dengan standar akuntansi yang berbasis prinsip dan yang berbasis aturan. Kelebihan utama standar akuntansi yang berbasis prinsip adalah terletak pada pedoman umum yang dapat diterapkan pada berbagai situasi, yang fleksibel dalam menghadapi lingkungan yang baru. Sebaliknya, standar akuntansi yang berbasis aturan dipandang kurang fleksibel dalam menghadapi perubahan lingkungan.Pedoman umum dapat mencegah perusahaan terperangkap dalam suatu persyaratan kaku yang memungkinkan suatu kontrak ditulis dengan tujuan untuk memanipulasi maksud kontrak tersebut. Misalnya, manajer mengakui suatu kontrak sewa (lease) sebagai sewa operasi untuk menghindari terjadinya liabilitas. Pedoman umum akan mendorong penyajian laporan keuangan dengan sebenarnya (representational faithfulness).Sedangkan standar berbasis aturan dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh perusahaan untuk mengelola laporan akuntansi, ketimbang melaporkan substansi ekonomi transaksi. Sebagai contoh, apa yang telah dilakukan oleh Enron dengan tidak melaporkan Special Purpose Entity (SPE) yang dimilikinya dari laporan posisi keuangan (off-balance sheet) karena hanya mencapai 3% kepemilikian ekuitas luar. Enron mampu menstruktur transaksi untuk menghasilkan perlakuan akuntansi yang diinginkan meskipun tidak mencerminkan transaksi yang sebenarnya.Pertimbangan ProfesionalKelebihan lainnya adalah, standar akuntansi yang berbasis prinsip memungkinkan akuntan untuk menerapkan pertimbangan profesional dalam menilai substansi suatu transaksi. FASB Chair Robert Herz menyakini bahwa profesionalisme dalam penyajian laporan keuangan akan meningkat jika akuntan diharuskan untuk menggunakan pertimbangan profesional mereka dibandingkan dengan hanya mengandalkan aturan-aturan rinci. Standar akuntansi yang berbasis prinsip memudahkan keseragaman penyajian dan pelaporan laporan keuangan yang bertujuan umum (general purpose financial statements) yang diterbitkan setiap tahun. Keseragaman laporan keuangan tersebut sangat bermanfaat bagi investor dan pengguna laporan keuangan lainnya dalam menilai prospek investasi pada perusahaan yang berbeda dalam negara yang berbeda.Di balik kelebihannya, standar akuntansi yang berbasis prinsip juga memiliki kelemahan. Karena mengandalkan pada pertimbangan individual dalam menginterpretasi dan mengimplementasikan standar, maka kemungkinan dapat digunakan untuk memanipulasi data dan hasil keuangan. Sedangkan pada standar akuntansi berbasis aturan, karena berisi aturan-aturan yang lebih rinci, maka standar tersebut lebih mudah untuk diterapkan dan tidak memerlukan pertimbangan profesional. Adakalanya aturan rinci ini lebih disukai karena kemungkinan terjadinya tuntutan hukum terhadap akuntan lebih kecil. Ketiadaan aturan dapat mengakibatkan tuntutan hukum jika akuntan tidak tepat dalam menggunakan pertimbangan profesionalnya.Pada standar akuntansi yang berdasarkan prinsip, kurangnya pedoman yang jelas menyebabkan ketidakkonsistenan dalam penerapan standar antar organisasi, sehingga sulit untuk membandingkan satu perusahaan dengan perusahaan lain. Sebagai contoh, dengan tidak adanya pedoman yang jelas, bagaimana perusahaan dapat menentukan bahwa suatu liabilitas itu kemungkinan besar terjadi (probable) atau hanya kemungkinan terjadi (possible). Standar akuntansi yang berdasarkan prinsip kurang fleksibel dalam menghadapi masalah-masalah yang dialami oleh bangsa-bangsa dengan lingkungan yang berbeda. Sehingga standar menjadi tidak memadai.Menurut Herdman (2002) dalam testimoninya “Are Current Financial Accounting Standards Protecting Investors”, standar akuntansi yang ideal adalah standar yang berbasis prinsip dan mensyaratkan pelaporan keuangan dapat mencerminkan substansi ekonomi dari suatu transaksi (bukan sekadar bentuk transaksi tersebut). Standar yang ideal akan menghasilkan keseimbangan antara aturan dan prinsip.Dalam paper DiPiazza et al (2008), standar akuntansi berbasis prinsip mempunyai karakteristik-karakteristik yang diyakini sebagai unsur pelaporan keuangan yang berkualitas. Karakteristik-karakteristik tersebut adalah: (1) Penyajian dengan sebenarnya (faithful presentation) realitas ekonomi, (2) Responsif terhadap kebutuhan pengguna laporan keuangan akan kejelasan dan transparansi, (3) Konsisten dengan Kerangka Konseptual, (4) Didasarkan pada lingkup yang ditentukan dengan tepat yang ditujukan pada area akuntansi yang luas, (5) Ditulis dengan bahasa yang jelas, ringkas, dan sederhana, dan (6) Memungkinkan penggunaan pertimbangan yang masuk akal.Penyusun laporan keuangan harus mampu menggunakan pertimbangan profesionalnya untuk melaporkan dengan sebenarnya substansi ekonomi perusahaan. Proses pelaporan keuangan tidak lagi diarahkan untuk mencari aturan yang mengatur bagaimana mencatat suatu transaksi atau membuat pengungkapan. Namun, proses pelaporan keuangan akan lebih menekankan penggunaan pertimbangan profesional. Oleh karena itu, penyusun laporan keuangan dan auditor harus diberi ruang untuk menggunakan pertimbangan profesional mereka dan yakin akan pertimbangan mereka. Sedangkan bagi regulator, harus menitikberatkan pada ketepatan pertimbangan yang mendasari laporan keuangan yang merupakan esensi dari pelaporan keuangan yang baik. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh standar akuntansi berbasis prinsip harus jelas dan mudah dimengerti.Sumber : http://www.bumn.go.id

Komentar :Sebaiknya negara-negara lebih mendukung penerapan IFRS di negaranya masing-masing sebagai pedoman atau standar pelaporan keuangan agar semakin berkualitas.  IFRS merupakan standar yang berbasis lebih pada prinsip. Standar berbasis prinsip memuat pedoman yang lebih umum yang dimulai dengan tujuan umum dan prinsip-prinsip tanpa memberikan pedoman rinci. Hal ini menjadikan IFRS lebih sederhana dan lebih fleskibel dalam persyaratan akuntansi dan pengungkapannya.